JURNAL REFLEKSI
Kelompok 4
Nama
Anggota Kelompok:
1. Nindya Arsita Husmar
2. Rahmawati yasin
3. Wirda
4. Ratna Komala
5. Natasya Amelia
6. Metri Try
7. Sintya Julistya. P
Kelas: A/ PGSD
Mata Kuliah: Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Topik: Tuna Wicara
Tanggal Refleksi: 13 Juli 2025
1. Pembahasan
Anak tuna wicara adalah anak yang
mengalami hambatan dalam berbicara baik sebagian maupun seluruh kemampuan
bicara yang seharusnya sesuai dengan usianya. Tuna wicara berasal dari kata
“tuna” yang berarti kurang atau tidak sempurna, dan “wicara” yang berarti
bicara. Maka, tuna wicara dapat diartikan sebagai anak yang mengalami hambatan
atau gangguan dalam kemampuan berbicara, meskipun daya pendengaran dan
intelektualnya tidak selalu terganggu.
Dalam dunia pendidikan inklusif,
keberadaan anak tuna wicara sering kali belum mendapatkan perhatian maksimal.
Padahal, anak-anak ini memiliki potensi besar apabila diberi fasilitas dan
dukungan yang tepat. Hambatan bicara ini bisa memengaruhi hampir semua aspek
kehidupan anak, seperti komunikasi, interaksi sosial, partisipasi dalam
pembelajaran, hingga perkembangan emosional dan kepercayaan dirinya.
Komunikasi merupakan fondasi utama dalam kehidupan manusia. Ketika seorang anak tidak dapat mengungkapkan gagasannya, ia akan merasa frustrasi, tertekan, dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, penting bagi calon guru, khususnya guru Sekolah Dasar, untuk memahami bagaimana memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai bagi anak tuna wicara agar mereka tetap dapat belajar dan berkembang sebagaimana mestinya.
2. Teori
Beberapa
pendekatan teoretis yang relevan dalam mendukung pemahaman dan layanan bagi
anak tuna wicara meliputi:
a.
Teori Perkembangan Bahasa Vygotsky
Lev
Vygotsky menyatakan bahwa perkembangan bahasa berperan penting dalam
perkembangan kognitif anak. Bahasa merupakan alat utama berpikir dan
berkomunikasi. Anak yang mengalami hambatan bicara berisiko mengalami
keterlambatan perkembangan berpikir karena tidak mendapatkan stimulasi
komunikasi yang memadai. Maka, pemberian stimulasi bahasa melalui interaksi
sosial, baik verbal maupun non-verbal, sangat penting.
b.
Teori Behaviorisme (Skinner)
Teori
ini menyatakan bahwa bahasa adalah hasil dari proses pembelajaran melalui
stimulus dan respon. Anak tuna wicara dapat dilatih berbicara atau
berkomunikasi melalui teknik penguatan positif setiap kali mereka mencoba
menggunakan bahasa isyarat, alat bantu komunikasi, atau simbol untuk
menyampaikan pesan.
c.
Teori Neuropsikologi
Dalam
pandangan neuropsikologi, kemampuan berbicara dipengaruhi oleh fungsi sistem
saraf pusat, khususnya otak bagian kiri yang mengatur fungsi bicara. Gangguan
pada bagian otak tersebut akibat cedera, cacat bawaan, atau infeksi bisa
mengakibatkan tuna wicara. Teori ini mendukung pendekatan medis dan terapi
wicara sebagai salah satu intervensi penting.
Berdasarkan
data dari Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), jumlah anak
dengan gangguan komunikasi di Indonesia meningkat setiap tahunnya, namun
pelayanan dan fasilitas pendidikannya masih terbatas.
Banyak
anak tuna wicara tidak terdeteksi sejak dini dan baru diketahui ketika memasuki
usia sekolah, akibat rendahnya kesadaran orang tua.
Sebagian
besar sekolah belum memiliki tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus
dalam menangani siswa tuna wicara.
Di
banyak sekolah reguler, anak tuna wicara sering dianggap “diam” atau “pasif”,
sehingga guru tidak menyadari bahwa mereka memiliki hambatan dalam berbicara.
Anak
tuna wicara lebih berisiko mengalami depresi dan gangguan perilaku karena
sering tidak mampu mengungkapkan emosi atau kebutuhan mereka secara verbal.
4. Ciri-Ciri dan Penyebab Tuna Wicara
1.
Ciri-ciri anak tuna wicara:
o
Kesulitan atau
ketidakmampuan mengucapkan kata dengan jelas atau sama sekali tidak berbicara.
o
Mengandalkan komunikasi
nonverbal seperti gerakan tangan, ekspresi wajah, atau gambar.
o
Tidak mampu mengucapkan
huruf tertentu, seperti huruf “r”, “s”, “k”, atau menyusun kalimat dengan
struktur yang tepat.
o
Mampu memahami perkataan
orang lain, tetapi tidak mampu membalasnya secara lisan.
o
Sering menunjukkan
frustrasi saat tidak bisa mengungkapkan maksudnya.
o
Suara terdengar serak,
pelan, tidak jelas, atau ada gangguan pada artikulasi.
2.
Penyebab tuna wicara:
o
Kelainan Organik
– seperti cacat pada langit-langit mulut, bibir sumbing, kerusakan pita suara,
dan lidah pendek.
o
Neurologis – kerusakan otak
akibat kelahiran prematur, trauma kepala, infeksi otak, atau kelainan genetik
yang memengaruhi pusat bicara.
o
Gangguan Pendengaran
– karena anak tidak mampu meniru bunyi yang tidak ia dengar.
o
Faktor Emosional
– anak trauma berat, merasa tertekan, atau mengalami kecemasan ekstrem dapat
mengalami mutisme.
o
Kurangnya Stimulasi
– anak yang tidak banyak diajak bicara di usia dini berisiko mengalami
keterlambatan bicara.
o
Faktor Keturunan
– ada kecenderungan gangguan bicara menurun dalam keluarga.
5. Solusi dari Aspek Kultural
Solusi
kultural memfokuskan pada pengaruh masyarakat dan nilai-nilai budaya terhadap
penerimaan terhadap anak tuna wicara.
·
Edukasi Masyarakat
Perlunya program edukasi berbasis komunitas yang mengajarkan masyarakat bahwa
anak tuna wicara bukan “anak nakal” atau “bodoh”. Sosialisasi pentingnya
komunikasi inklusif bisa dilakukan melalui posyandu, kegiatan desa, media
sosial, dan kampanye publik.
·
Menghapus Stigma
Masyarakat harus belajar untuk tidak lagi melabeli anak tuna wicara dengan
sebutan negatif. Perlu upaya untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa setiap
anak unik dan memiliki cara belajar berbeda.
·
Budaya Inklusif
Budaya sekolah dan lingkungan rumah harus mengutamakan kesetaraan dan
keberagaman. Bahasa isyarat sebaiknya diperkenalkan secara luas sebagai bagian
dari kekayaan budaya komunikasi.
·
Penguatan Peran Tokoh Masyarakat
Tokoh agama dan adat dapat diajak berperan aktif dalam menyebarkan pandangan
positif tentang anak berkebutuhan khusus.
6. Solusi dari Aspek Pendidikan
·
Sekolah Ramah ABK
Sekolah harus benar-benar menjalankan prinsip inklusi dengan menyediakan
fasilitas yang mendukung anak berkebutuhan khusus, termasuk tuna wicara,
seperti ruang belajar tenang, alat bantu komunikasi, dan layanan terapi wicara.
·
Pelatihan Guru
Guru perlu dibekali pelatihan khusus mengenai pembelajaran diferensiasi dan
cara mengenali serta menangani anak dengan gangguan bicara.
·
Kurikulum Adaptif
Perlu adanya kurikulum yang fleksibel, tidak berfokus pada hasil verbal semata.
Siswa tuna wicara bisa dinilai melalui tugas tertulis, karya visual, atau media
simbolik lainnya.
·
Kolaborasi Lintas Disiplin
Sekolah perlu bekerja sama dengan psikolog, terapis wicara, dan dokter anak
dalam menyusun program pembelajaran yang tepat bagi anak.
7. Solusi dari Aspek Pembelajaran
·
Penggunaan Media Visual dan Interaktif
Gambar, poster, simbol, dan alat bantu komunikasi sangat penting dalam
pembelajaran anak tuna wicara. Misalnya, menggunakan flash card, picture
board, atau aplikasi seperti Proloquo2Go.
·
Strategi Total Communication
Menggabungkan berbagai cara berkomunikasi: verbal, bahasa isyarat, tulisan,
ekspresi wajah, dan teknologi.
·
Kelas Inklusif Kolaboratif
Guru dapat membentuk kelompok kecil yang mendukung siswa tuna wicara melalui
kegiatan bersama agar mereka tidak merasa terisolasi.
·
Penguatan Emosional dan Sosial
Guru harus membangun kepercayaan diri siswa, memberikan dukungan emosional, dan
mendorong interaksi sosial dengan teman sebaya.
8. Implikasi
·
Bagi Guru
Guru
harus menanamkan prinsip inklusi dalam pengajaran. Tidak semua siswa bisa
mengikuti standar yang sama, maka pendekatan diferensiasi, kreativitas, dan
empati sangat dibutuhkan.
·
Bagi Sekolah
Sekolah
harus menjadi tempat yang aman dan ramah bagi semua jenis siswa. Sarana
komunikasi alternatif harus tersedia, dan kolaborasi antar guru harus berjalan
efektif.
·
Bagi Siswa Tuna Wicara
Dengan
dukungan yang tepat, anak tuna wicara akan lebih percaya diri dan memiliki
kesempatan berkembang dalam bidang akademik, sosial, dan emosional.
·
Bagi Lingkungan Sosial
Semakin
inklusif masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, semakin kecil
kemungkinan anak-anak ini dikucilkan. Mereka pun dapat tumbuh sebagai bagian
yang aktif dalam masyarakat.
Komentar
Posting Komentar